Mechanical Engineering Ismanto Alpha's

Rabu, 02 Desember 2009

Potensi Biomassa Briket Kabupaten Tanggamus




Potensi Biomassa Kabupaten Tanggamus


Kabupaten Tanggamus yang beribukota di Kota Agung ini secara geografis terletak antara 104o18 - 105o12 BT dan antara 5o05 - 5o56 LS. Kabupaten ini di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Barat, di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, di sebelah barat berbatsan dengan Kabupaten Lampung Barat sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Pasawaran. Luas Kabupaten Tanggamus 335.661 Ha. Secara admisnistratif, Kabupaten ini terbagi menjadi 24 Kecamatan. Pada tahun 2006 mempunyai jumlah penduduk 858.880 jiwa yang terdiri dari 460.761 jiwa wanita dan 398.119 jiwa wanita. Kegiatan ekonomi Tanggamus, mencirikan sebagai wilayah agraris. Hasil-hasil pertanian tanaman pangan dan perkebunan serta perikanan adalah jantung bagi kelangsungan ekonomi penduduknya selama ini.



A. Padi

Isu kenaikan harga BBM menyadarkan kita bahwa konsumsi energi yang semakin meningkat dari tahun ke tahun tidak seimbang dengan ketersediaan sumber energi tersebut. Kelangkaan dan kenaikan harga minyak akan terus terjadi karena sifatnya yang non-renewable. Hal ini harus segera diimbangi dengan penyediaan sumber energi alternatif yang renewable, melimpah jumlahnya, dan murah harganya sehingga terjangkau oleh masyarakat luas. Briket sekam padi memiliki potensi yang sangat menjanjikan di Indonesia. Bahan baku berupa limbah sekam padi terdapat dalam jumlah yang melimpah, murah, dan renewable. Terlebih lagi untuk kabupaten tanggamus komoditas padi yang menjadi salah satu komoditas pertanian utama dengan penyumbang yang cukup besar. Pada tahun 2006 Produksi padi Kabupaten Tanggamus tahun mencapai 229679 ton gabah kering giling.


limbah pertanian dapat berbentuk bahan buangan tidak terpakai dan bahan sisa dari hasil pengolahan. Proses penghancuran limbah secara alami berlangsung lambat, sehingga tumpukan limbah dapat mengganggu lingkungan sekitarnya dan berdampak terhadap kesehatan manusia. Padahal, melalui pendekatan teknologi, limbah pertanian dapat diolah lebih lanjut menjadi hasil samping yang ber-guna di samping produk utamanya. Salah satu bentuk limbah pertanian adalah sekam yang merupakan bu-angan pengolahan padi. Sekam padi merupakan lapisan keras yang membungkus kariopsis butir gabah, terdiri atas dua belahan yang disebut lemma dan palea yang saling bertautan. Pada proses penggilingan gabah, sekam akan terpisah dari butir beras dan menjadi bahan sisa atau limbah penggilingan. Dari proses penggilingan gabah akan dihasilkan 16,3-28% sekam. Sekam dikategorikan sebagai biomassa yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan seperti bahan baku industri, pakan ternak, dan energi.Daerah tanggamus dengan hasil padi yang merupakan salah satu komoditi unggulan, memiliki peranan yang cukup besar yang jika dilaksanakan dengan maksimal tidak mustahil dapat mengatasi krisis minyak tanah yang terjadi yaitu dengan pengolahan limbah padi yang berbentuk sekam. Daerah ini menghasilkan 229679 ton padi kering giling pada tahun 2006. Jumlah yang cukup besar untuk daerah seperti tanggamus yang banyak terdapat daerah pegunungan dan daerah pantai. Dengan hasil produksi gabah kering giling yang cukup besar inilah diharapakan masyarakat tidak lagi tergantung pada minyak tanah hanya untuk sekedar memasak.

besarnya sekam dan juga nilai kalori yang dihasilkan oleh daerah tanggamus menjadi:

jika diambil presentase paling kecil

sekam= 16.3 x 229679 ton /100

= 37437.677 ton

Sehingga besarnya nilai kalori yang dihasilkan dari sekam padi didaerah tanggamus yaitu:

Kalori = 3.300 kkal x 37437677

= 123.544.334.100 kkal



Daerah tanggamus dengan penghasil sekam 37437.677 ton untuk tahun 2006 merupakan daerah yang sangat potensial untuk penghasil briket sekam. Seperti terlihat dari tabel diatas sekam padi 1 kg dapat digunakan dalam waktu 35 menit dengan biaya yang sangat murah yaitu Rp. 2,-. Dengan banyaknya sekam yang dihasilkan yaitu sekitar 37437,677 ton maka total sekam dapat digunakan untuk pembakaran selama:

Total waktu pembakaran= 37437677 kg x 35 menit

= 1310318695 menit

= 21838644,917 jam

Jumlah yang sangat besar yang dapat dihasilkan oleh briket sekam padi ini. Jika saja pemanfaatan sekam padi dapat dilakukan secara optimal maka jumlah sekam padi yang terdapat dikabupaten ini telah mencukupi untuk menggantikan pemakaian masyarakat terhadap minyak tanah.

Ditinjau dari komposisi kimiawinya, sekam mengandung beberapa unsur penting seperti terlihat pada Tabel 1. Dengan komposisi kandungan kimia seperti itu, sekam antara lain dapat dimanfaatkan untuk (1) bahan baku industri kimia, terutama kandungan zat kimia furfural; (2) bahan baku industri bahan bangunan, terutama kandungan silica (SiO2) yang dapat digunakan untuk campuran pada pembuatan semen portland, bahan isolasi, husk-board dan campuran pada industri bata merah; (3) sumber energi panas karena kadar selulosanya cukup tinggi sehingga dapat memberikan pembakaran yang merata dan stabil.

Sekam memiliki ke kerapatan jenis (bulk density) 125 kg/m3, dengan nilai kalori 3.300 kkal/kg sekam. Melihat potensi sekam yang begitu besar sebagai sumber energi maka pemasyarakatan penggunaan sekam sebagai bahan bakar alternatif pada rumah tangga, sebagai pengganti energi kayu atau bahan bakar minyak, sangat memungkinkan.

1 Proses Pembuatan Arang Sekam

1. Sekam merupakan bahan dasar untuk membuat arang sekam dan briket

arang sekar.

2. Membuat bara api dengan kayu kering untuk membuat arang sekam.

3. Setelah membuat bara api kemudian bara api ditutup dengan cerobong

pembuat arang sekam.

4. Kemudian cerobong ditutup dengan sekam kering.

5. Sekam yang sudah sebagian menjadi arang sekam.

6. Arang sekam telah jadi dan siap digunakan untuk pembuatan briket

arang sekam.

2. Pembuatan Briket Arang Sekam

Arang sekam dapat dimanfaatkan dalam bentuk arang curah atau briket. Pencetakan briket arang sekam dapat dilakukan secara manual dengan peralatan yang sederhana berupa bambu berdiameter 10 cm dan tinggi 7 cm sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Arang dibuat adonan dengan cara dicampur dengan air secukupnya dan untuk merekatkannya ditambahkan tanah liat atau bahan perekat lain-nya. Adonan dicetak dalam tabung bambu kemudian dikeringkan.


3. Peluang Pemasaran


Di tingkat penggilingan, harga sekam kering sekitar Rp50/kg dan bila diolah menjadi arang sekam harganya menjadi hampir Rp150/kg. Ternyata sentuhan teknologi pengolahan sederhana tersebut mampu memberikan nilai tambah yang cu-kup besar. Harga arang sekam di tingkat petani bunga dan petani sayuran dapat mencapai Rp700-Rp750/kg. Pemanfaatan arang se-kam dalam bentuk briket masih ter-batas, namun prospeknya cukup ce-rah karena harganya lebih bersaing disbanding arang kayu. Harga arang kayu sekitar Rp1.000-Rp1.500/kg, sedangkan arang sekam Rp600/kg. Pangsa pasar arang sekam antara lain adalah perusahaan peleburan bijih baja, industri hortikultura terutama bunga potong dan paprika, serta rumah tangga. Briket arang sekam dapat pula dikembangkan penggunaannya sebagai media tumbuh tanaman bernilai ekonomis tinggi di samping sebagai bahan bakar ramah lingkungan.Untuk mendukung pemanfaatan sekam sebagai bahan bakar alternatif, ada beberapa model tungku yang dapat dikembangkan, antara lain tungku rumah tangga model Singer dan model Sumarni serta tungku briket arang sekam terbuat dari plat besi.


Dari aspek ekonomi, perbandingan harga saat ini (2005) menunjukkan bahwa gas elpiji Rp 5.000,00 per kg, harga minyak tanah per liter Rp 3.400,00, sedangkan batu bara Rp 2.000,00/kg. Bandingkan dengan sekam yang tersedia melimpah dan nyaris tidak memiliki nilai jual, alias harganya nol rupiah. Jika pun dihargai untuk pembuatan bata merah, tak akan lebih dari Rp 10,00 per kg.


Dari sisi energi yang dihasilkannya, batu bara dalam bentuk briket mengandung 60 persen energi (5.500 Kkal) yang dikandung satu liter minyak tanah (8.900 Kkal), dan kurang dari separuh energi yang dikandung 1 kg gas elpiji (11.900 Kkal). Panas pembakaran sekam dapat mencapai 3300 Kkal (Van Ruiten, 1981) dan bulk density 0,100g/ml, serta konduktivitas panas 0,068 Kkal (Houston, 1972).


4. Hasil Samping Pembuatan Arang Sekam

Pembuatan arang sekam dan briket arang sekam menghasilkan produk ikutan berupa abu. Abu sekam dapat dimanfaatkan untuk abu gosok, bahan ameliorasi tanah masam, dan bahan campuran dalam pembuatan semen hidrolik. Abu sekam dapat pula dimanfaatkan untuk campuran batu bata pres. Batu bata yang dibuat dari semen abu sekam mempunyai kualitas yang lebih baik ditinjau dari kekuatan tekannya (compressive strength) antara 175- 450 kg/cm2, di samping mempu-nyai kekuatan renggang (tensile strength), elastis, dan tahan asam. Abu sekam dapat juga dimanfaatkan dalam pengolahan karet. Pencampuran 6 bagian abu sekam dengan 10 bagian karet alam menghasilkan karet dengan kekuatan renggang 207 kg/cm2 dan elastisitas 63,6 kg/cm2. Sifat perpanjang-an karet juga lebih baik dibanding yang diolah menggunakan kaolin atau tanah liat. Karet yang diolah menggunakan abu sekam sebagai bahan penguat mempunyai sifat medium thermal black




posted by IsmantoAlpha's at 17.29

0 Comments:

Poskan Komentar

<< Home